Jumat, 02 Januari 2009

MUSAFIR CINTA

Karena perbedaan dengan para sahabatnya di pesantren, memaksa Iqbal untuk tidak lebih lama tinggal di Pesantren. Iqbal pun pergi meninggalkan pesantren Tegal Jadin. Namun ia bingung harus pergi kemana. Tidak mungkin kalau ia harus pergi ke Jakarta lagi. Dengan berkata basmalah, akhirnya Iqbal melangkahkan kakinya pergi untuk menjadi seorang musafir.
Ia bingung harus pergi kemana. Ia menyetop bus dan melambai-lambaikan tangan kanannya. Namun tak ada tanda-tanda bus akan berhenti dan itu ia lakukan berulang kali. Sampai akhirnya ia jengkel dan mengeluarkan umpatan yang seharusnya tidak ia keluarkan. Ia mulai ragu dan membuat kesimpulan bahwa disinilah tempat berhentinya, di Sruwen. Tapi setelah beberapa saat dari arah Solo melintas sebuah bus besar dan tepat di depan matanya bus itu berhenti.
Iqbal pun segera naik bus jurusan Solo-Purwokerto. Namun ia tetap tidak tahu kemana tujuannya itu. Di dalam bus dia melihat perempuan berjilbab, dan seorang pemuda pun duduk di sebelahnya.. Tak lama kemudian pemuda dan perempuan berjilbab itu saling berkenalan. Perempuan itu bernama Ida dan pemuda itu bernama Yoga. Iqbal mendengarkan pembicaraaan mereka karena memang jaraknya sangat dekat. Tanpa disangka-sangka mereka tambah dekat satu sama lain, bahkan sang perempuan pun menyandarkan kepalanya ke pundak pemuda itu, padahal perempuan itu berjilbab. Seiring dengan waktu mereka tambah berpegangan dan semakin mesra.
Melihat Yoga dan Ida, Iqbal pun teringat pada sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yanga baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dan apa yang dituhkan oleh mereka (yang menuduh) itu. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” QS An-Nur: 26.
Ia pun teringat akan Aisyah. Ia teringat akan tudingan para sahabatnya bahwa ia telah berkhalwat dengan Aisyah, tudingan yang menjadi bagian Hujjah yang mengadilinya sihingga ia harus meninggalkan Tegal Jadin. Seandainya mereka ada disini, ingin sekali Iqbal mengatakan semua bahwa inilah sejati-jatinya khalwat itu. Yaitu dua insan laki-laki dan perempuan bermesraan. Inilah makna berdua-duaan yang diharamkan itu. Karena saking kesalnya akhirnya Iqbal pun menangis.
Iqbal pun berkenalan dengan seorang pemuda bernama Anton. Mereka akhirnya berdiskusi tentang Islam. Dimana Anton menganut agama cinta, yaitu agama yang bukan Islam, bukan Kristen dan bukan agama-agama lain yang terdaftar. Iqbal merasa senang berdiskusi dengan Anton.
Tanpa disangka Bus pun mogok, semua penumpang pun turun. Iqbal melihat empat pemuda yang sedang menyanyikan lagu-lagu reliji. Namun sayangnya mereka menyanyikan lagu reliji itu dengan mulut yang bau minuman keras dan baunya sangat tercium sekali. Iqbal tahu bahwa bau dari mulut empat laki-laki itu bau minuman keras, karena dulu Iqbal pernah merasakannya.
Sejam telah berlalu, tidak ada tanda-tanda bus itu bisa diperbaiki akhirnya kondektur bus itu menyerah. Saat bus lain datang, Iqbal memutuskan untuk tetap disini dan berkenalan dengan segerombolan pemuda tadi (Firman, Parno, patmo, dan surya). Setelah berkenalan. Firman meminta uang kepada Iqbal untuk beli minuman. Parno (sahabat Firman) melarangnya. Akhirnya Iqbal akan memberi uang jika uang tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat. Iqbal menawarkan ingin memberikan mereka dua buah gitar agar nantinya bisa digunakan untuk ngamen. Dengan mengucapkan basmalah Iqbal pun mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dompetnya dan memberikannya kepada mereka. Mereka kaget dan tak menyangka Iqbal akan memberikan mereka uang sebanyak itu. Kemudian Iqbal pun merasa mereka mulai ada rasa segan terhadapnya. Iqbal pun diajak istirahat ke rumah Firman.
Saat berhenti di rumah Firman, ternyata Firman merupakan anak yang berkecukupan. Ia berubah menjadi liar (nakal) setelah adik kandungnya (namanya Nida) di perkosa dan dibunuh. Sejak itulah rumah ini penuh kemaksiatan meskipun kedua orang tua Firman sudah menunaikan ibadah haji dua kali, namun mereka tidak sanggup untuk menjadi orang tua yang baik di mata Firman dan merasa tidak bisa mengurus Firman.
Ayah dan ibu Firman melihat Iqbal sedang shalat subuh. Mereka sangat senang melihat baru kali ini ada sahabat Firman yang mau shalat. Mereka pun menganggap Iqbal sebagai mukjizat dari Allah untuk merubah kehidupan di rumah mereka. Mereka pun meminta Iqbal untuk tinggal di rumah mereka dan Iqbal pun menyetujuinya.
Selama Iqbal tinggal di rumah Firman, Iqbal memutuskan untuk menghafal Al-Quran. Iqbal pun memutuskan untuk menghafal Al-Quran tujuh ayat perhari sehingga dalam tiga tahun ia bisa hafal Al-Quran.
Suatu hari ia berseteru dengan Firman, yang dipermasalahkannya tentu saja mengenai Islam. Dan Iqbal pun merasa perkataan Firman ada benarnya. Gawatnya Iqbal pun mulai merasa ragu dengan agamanya dan mulai meninggalkan kewajibannya sebagai muslim. Ia pun bingung dan selalu menangis. Suatu sore hujan terus mengguyur, dan ia pun pergi untuk mencari gereja. Ia pun mengadu sebagaimana orang Kristen melakukan pengakuannya.
Kemudian seorang pendeta bertanya kepadanya.” Ada apa Anakku?”
Iqbal pun meminta maaf karena telah mengunjungi rumah Tuhan yang bukan Tuhannya. Ia pun mengatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, Iqbal mengaku tidak sanggup menemukan Tuhannya. Iqbal pun menceritakan masalahnya. Sang pendeta pun mencoba membantu mencari Tuhan yang Iqbal cari.
Tak disangka sang pendeta mulai menasihati Iqbal. Sang pendeta mengatakan bahwa Iqbal sedang putus asa dan putus asa itu merupakan jalan yang terkutuk. Ia menyuruh Iqbal untuk meminta ampunan kepada Allah, Tuhannya. Tak terasa Iqbal pun menangis dan tak menyangka ada seorang pendeta yang sedemikian bijaknya, luas wawasannya serta melintas batas keyakinannya. Akhirnya Iqbal berlari meninggalkan Gereja.
Esok harinya Indri (kekasih Firman) datang ke rumah Firman. Orang tua Firman tidak mau menemui Indri dan akhirnya Iqbal lah yang menemui Indri.Iqbal menasihati Indri untuk kembali ke jalan Allah dan menasihati Indri agar menjaga kesuciannya. Mendengar nasihat dari Iqbal Indri pun menangis dan pergi dengan berlari. Iqbal merasa bersalah tentang apa yang telah dikatakannya kepada Indri, namun semua itu Iqbal lakukan demi kebaikan Indri sendiri.
Tidak hanya pada waktu itu saja Indri datang ke rumah Firman. Beberapa hari kemudian Indri datang kembali dengan wajah yang cerah. Iqbal berharap Indri tidak terluka akan perkataannya yang dulu. Indri mengajak Iqbal untuk mencari Firman yang telah beberapa hari tidak pulang ke rumahnya setelah berseteru dengan Iqbal. Setelah mencari kemana-mana, Iqbal merasa cape dan minta istirahat. Saat mereka istirahat, tak disangka Indri merayu Iqbal dan Indri mulai menurunkan kepalanya ke paha Iqbal, dengan pelan-pelan Iqbal mendorong kepala Indri. Dan akhirnya Iqbal memutuskan untuk pulang daripada berlama-lama dengan Indri yang sikapnya mulai agresif..
Sahabat-sahabat Firman pun datang menemui Iqbal, mereka ternyata menemukan Firman . Mereka menemukan Firman rebahan di tempat imam mushala. Firman pun digelandang seperti orang gila. Mereka pun menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Firman. Iqbal pun mengatakan bahwa Firman sedang mendekati Allah. Saat inilah Iqbal mencoba mengingatkan mereka tentang Allah. Ternyata mereka berniat untuk kembali ke jalan Allah dan berhenti meninggalkan kemaksiatan.
Masalah pun tak berhenti sampai disitu. Ternyata Okta dan Indri bertengkar memperebutkan Iqbal. Iqbal pun takut godaan Tuhan berupa syahwatnya dan berdoa kepada Allah agar lebih baik Dia memburukan wajahnya dan berkenan membutakan kedua matanya.
Kejadian buruk pun terjadi. Saat Iqbal berada di kamar Firman, Indri pun datang dan masuk ke ka Firman. Indri pun merayunya dan mencoba memeluk Iqbal. Iqbal menolaknya. Saat itulah Firman datang dan melihat mereka berdekatan seperti itu. Firman marah dan menyuruh Iqbal untuk pergi dari rumahnya, dan Firman menantang Iqbal di Alun-alun.
Saat itulah Iqbal mengemasi barang-barangnya. Orang tua Firman bingung apa yang sedang terjadi. Iqbal pun segera pergi ke alun-alun, disana sudah ada Firman dan sahabat-sahabatnya. Firman pun berkelahi dengan Iqbal di saat hujan tengah lebat. Tinjuan yang bertubi-tubi Firman berikan kepada Iqbal sampai kemaluan Iqbal pun dipukulnya berkali kali sehingga membuat Iqbal tidak sadarkan diri. Dan saat Iqbal terjatuh, Firman menyiramkan semangkuk sambal kemata Iqbal. Sampai Iqbal harus dirawat di rumah sakit selama lima belas hari.
Akhirnya Iqbal tersadar, namun matanya tidak bisa di buka. Mungkin semua ini karena keinginan Iqbal juga yang pernah meminta kepada Allah untuk membutakan matanya. Sahabat-sahabatnya datang dan kini mereka tahu masalah yang terjadi. Mereka membenci Firman atas kelakuannya, namun Iqbal melarang mereka untuk membenci Firman.
Firman menyesali semua kesalahannya di liang kubur dan mencoba bunuh diri. Parno memberi tahu Iqbal tentang apa yang terjadi pada Firman.Iqbal pun segera pergi dari rumah sakit tanpa sepengetahuan suster dan dokter dan Iqbal pun dituntun oleh parno. Dikuburan banyak orang yang berkumpul termasuk para wartawan . Iqbal pun mencoba agar Firman kembali kepada Allah dan masih ada waktu untuk bertobat. Setelah sekian lama berdialog akhirnya Firman pun sadar dan terdengar gemuruh takbir.
Akhirnya Okta dan Indri memutuskan untuk berjilbab. Okta memutuskan untuk tidak menikah dengan alasan yang bisa diterima dengan jelas, kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dia mengikuti jejak Rabi’ah Al-adawiah. Surya, Parno, dan patmo pun mendapatkan jiwa barunya. Setelah lima belas hari perban yang menutupi mata Iqbal hari ini perban itu bisa dibuka. Semua orang mencemaskan mata Iqbal, mereka takut Iqbal tidak bisa melihat kembali. Alhamdulilah atas izin-Nya Iqbal bisa melihat kembali. Kejadian di kuburan itu membuat Iqbal terkenal begitupun dengan Firman. Banyak artikel yang dimuat di Koran-koran yang meliput tentang mereka. Dan mereka pun membentuk sebuah kelompok bersama pengamen lainnya yang bernama “Ashabul Kahfi”. Berita akan dirinya pun tersiar di berbagai Koran. Antara lain judunya yakni “Musafir Cinta – Sebuah Perjalanan Hati Seorang Iqbal Maulana”. Ia pun selalu diwawancarai oleh wartawan.
Akhirnya kini dia telah hafal Al-Quran dan ia memutuskan untuk kembali ke pesantren Tegal Jadin seperti janjinya kepada Kyai Sepuh untuk mempersunting seseorang atau tiga gadis yakni Zaenab, Pricillia atau Khaura. Sudah tiga tahun Iqbal tinggal di Banjarnegara. Tanpa sepengetahuan Iqbal. Para pengurus Ashabul Kahfi menyediakan dua buah mini bus ditambah mobil pak Burhan, mereka (rombongan Ashabul Kahfi) akan mengantarkan Iqbal menuju pesantren Tegal Jadin untuk menjemput cintanya. Selamat tinggal Banjarnegara, selamat tinggal kenangan. Semoga Allah SWT. menjadikan Banjarnegara sebagai kota yang indah dan diberkahi ALLAH. Amin
2. Bagian Yang Menarik
ü Dari arah kanan, seorang gadis kecil melintas di depanku. Kepadanya aku bertanya “ Dik masjid dimana?”
“Masjid?”
“Ho-oh.”
“O, disana kak …” Gadis itu menunjuk suatu arah. Kuikuti telunjuknya. Dan benar, kubah masjid itu terlihat disana.
“Terimakasih ya.”
“Memang untuk apa nanya masjid, kak?.”
Aku tersenyum. Aku pikir, bagaimana bisa gadis kecil ini bertanya begitu. Umurnya saja kira-kira 6-7 tahun, kok masih bertanya seperti itu. Apa orangtuanya tidak mengajari shalat? Tetapi aku tetap menjawabnya “Kakak mau shalat asar.”
“Emang jam berapa sekarang?”
“Jam 16:30.”
“Jam 16:30 kok baru shalat asar?
“Dug!!!”
Gadis itu berlalu begitu saja. Jadi itu maksudnya?Masyaallah, begitu terlambatkah aku untuk shalat asar diwaktu sekarang untuk ukuran gadis kecil disini? Tetapi sunggug, aku senang mendengar perkataanya. Aku senang. Dan aku sangat senang. Inilah mungkin hakikat agama di desa Bandung ini, atau di desa-desa manapun juga. Sebuah hakikat yang ditampakkan oleh seoranganak semacam dia.
Hatiku menjadi agak tenang. Kata-kata gadis itu dsedikit banyak mampu memecahkan kebingunganku. Benar, tiada tempat sebaik-baiknya tujuan mengadu, kecuali mengadu kepada Allah SWT.”
ü … Sesaat aku ingat bagaimana dulu di Jakarta, aku jatuh tersungkur karena mabuk vodka atau Marijuana. Sekarang ini, aku benar-benar bisa mabuk karena “Vodka Marijuana” keringat bapak itu!
ü “Sudah bayar ongkos?” tanyanya kepadaku.
“Belum” jawabku
“Mau turun dimanan?”
Aduh.
Aku mulai sadar bahwa aku sedang naik bus dan pasti akan ditanya begitu. Aku hendak turun dimana?
“Mas … kok malah ngelamun? Mau turun mana?”
“Aduh, dimana ya?”
“Lohh .. mas ini mau kemana?”
“Memang bus ini mau kemana?”
“Loh … mas ini gila apa?
“Aduh, jangan bilang begitu, bang. Saya benar-benar tidak tahu hendak turun dimana. Saya juga tidak tahu mau kemana. Saya hanya mau naik bus ini saja.”
“Gila, ente benar-benar gila.”
ü “Yang jelas, aku bukan seorang muslim. Aku bukan seorang Kristen. Aku bukan seorang Hindu. Aku bukan seorang Budha. Memang, dulu aku seorang muslim seperti mas Iqbal ini. Tetapi itu dulu. Sekarang agamaku melampaui semua batasan itu. Agamaku bukanlah semua agama yang aku sebut tadi. Agamaku adalah agama cinta.”
ü “ … Aku benar-benar heran. Mas membuat aku terlalu kagum kepada mas. Hampir satu jam lebih mas tenggelam dalam shalat yang mas kerjakan. Sungguh, demi Tuhan, aku baru melihat seorang muslim seperti mas. Aku menjadi teringat kisah tentang bagaimana sahabat dan menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib, yang tidak merasakan perihnya tusukan pedang Abdullah bin Muljam disaat Ali bersembahyang. Sungguh, aku kagum kepada mas..”
ü “Aku tidak ingin mempengaruhimu untuk meninggalkan sembahyang. Akupun tidak ingin mempengaruhimu untuk menjauh dari Al-Qur’an. Sebagai pemuda yang baik, mas adalah orang yang hebat. Akan lebih hebat pabila mas bisa menjawab seluruh pertanyaanku. Tetapi bagaimana mungkin? Tuhan saja tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku, apalagi mas? Apalagi manusia? Apalagi Kyai atau Ustadz? Apalagi mereka yang berpura-pura yakin dan percaya kepada Tuhan sedangkan mereka sendiri tidak sanggup menunjukkan alasan keyakinan dan kepercayaan itu. Ah, tai orang yang menyatakan Tuhan-lah yang menciptakan langit dan bumi. Mana buktinya bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, jiga manusia, juga asu …! Pakek dalil keteraturan? Pakek hujjah kasualitas? Pakai dalil Al-Qur’an dan hadits nabi? Siapa yang mampu membuktikan dengn apa? Dengan ayat-ayat Al-Qur’an sendiri? Ah, omong kosong! Bagaimana sebuah bukti akan dihadirkan dari sesuatu yang perlu bukti itu sendiri?”
ü “ … Aku tahu. Seandainya aku duduk dihatimu, aku bisa menyaksikan bahwa kamu sesungguhnya tengah putus asa. Ada ruang hampa di dalam dirimu. Ada kekosongan. Ada kegelisahan, kamu merasa bahwa semua yang telah kamu lakukan hanyalah kesia-siaan. Kamu lari dari kenyataan dan mencipta kenyataan palsu: mengamen, mabuk, mengkonsumsi narkoba, free sex. Dan semakin dalam kamu berada dalam kenyataan palsu yang kamu ciptakan sendiri, maka semakin hampa, semakin kosong, semakin gelisah dirimu. Akhirnya kamu menjadi putus asa. Semakin menjerit batinmu. Semakin marah kamu kepada Tuhan …”
ü “… Jadi, jangan pernah salahkan aku pabila berbuat hal yang busuk-busuk seperti sekarang ini. Jangan salahkan aku, sebab Tuhan sendiri yang telah membuatku melakukannya.”
ü “ Buat apa aku hidup? Apa hanya untuk menyaksikan kesengsaraan ini? Aku lebih baik bunuh diri agar bisa segera bertemu Tuhan dan melabrak-Nya atas ketidak adilan ini … !”
ü “… Kala aku berada dikeramaian kota. Di bawah sorotan-sorotan lampu-lampu diskotik. Aku mulai berpikir bahwa disitu, di tempay itu, Allah tidak ada, sebab jika Allah ada, tentu diskotik tidak ada. Kenyataannya, diskotik ada (maka Tuhan pun tidak ada) Aku menjadi jahat karena aku sendiri yang membuat diriku menjadi penjahat. Aku sendiri yang membuat ibuku terbentur kepalanya di dinding. Dan aku sendiri yang mengambil keputusan untuk merubah hidupku.”
ü Sore ini, kala hujan masih mengguyur bumi, aku berlari dan terus berlari. Aku berlari mencari gereja, Aku ingin pergi ke gereja, sebab siapa tahu Tuhan tengah ada disana. Tuhan telah tidak ada dikamar tempatku menghafal Al-Qur’an dan menjalankan sembahyang. Tuhan telah pergi dari sana. Tuhan telah meninggalkanku.
Kubiarkan tubuhku dihajar hujan. Kilat menyambar-nyambar. Guntur menggelegar . Orang-orang hanya duduk diemperan toko, mencari tempat berteduh. Mata memandangku, memandang dengan kerdipan heran.
Ku buka pintu gereja. Disambut oleh bangku-bangku kosong, tempat jemaat bersembahyanf. Kuingin mengadu sebagaimana seorang Kristen melakukan pengakuan.
“Duh bapa … maafkan aku, “ suaraku lirih dan putus asa.
Ada apa anakku?seorang pendeta berkata dri balik kelambu.
“Maafkan aku, sebab aku telah mengunjubgi Rumah Tuhan yang bukan Tuhanku. Aku seorang muslim, bapa. Seorang muslim. Aku seorang muslim yang tidak sanggup menemukan Tuhanku. Mungkin, Engkau akan menolongku menemukan Tuhan memlalui pintu rumah-Mu ini.”
“Ceritakan, apa yang tengah menimpamu, anakku. Barangkali, aku dapat membantumu menemukan Tuhan yang kamu cari.”
Lalu kuceritakan kepadanya ceritaku yang sedetail-detailnya. Sejak masa kecilku. Sejak kuhabiskan masa remajaku di Jakarta. Hingga ke pesantren. Hingga sampai disini. Ku kisahkan pula, keluh-kesah Firman. Dan akhirnyakukisahkan kebingungan, kebimbangan, dan keraguanku.
“Aduhai, anakku. Semoga Tuhan Allah mnengampunimu. Kamu tengah putus asa, anakku. Kmau tengah putus asa. Dan putus asa adalah jalan setan. Jalan yang terkutuk. Putus asa hanya akan semakin menjauhkanmu dari kasih Tuhan.”
“ Tetapi harus bagaimana, Bapa? Akhir-akhir ini, aku benar-benar tidak lagi sanggup menikmati hubunganku dengan Allah-ku. Aku benar-benr tidak sanggup. Aku ragu kepada-Nya. Aku meragukan-Nya. Yang kubutuhkan sekarang adalah bukti, Bapa, bukti adanya Dia. Tetapi, semakin kucari buktoi itu, semakin tidaka aku dapatkan.”
“Anakku, kamu tadi berkata bahwa dirimu adalah seorang muslim. Pernahkah kamu mendengarkisah pedih yang menimpa cucu Rasul SAW, anakku?
“Apakah itu, Bapa?”
Lalu aku mendengar pendeta gereja ini menceritakan suatu tragedy kemanusiaan yang kata beliau, merupakan tragedy terbesar yang pernah terjadi dalam masa lalu. Adalah padang Karbala tempat terjafdinya tragedy itu. 10 Muharam waktu terjadinya tragedi itu. Imam Husain dan keluarga naqbi serta beberapa sahatnya dibantai oleh prajurit yang mengatasnamakan kaum muslim.
“Aku sudah tahu cerita itu, Bapa. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu apa yang menimpa Husain. Apa yang menimpsa Zaenab dan Sukaynah. Tetapi apa hubungan cerita itu dengan cerita hidupku?”
“Anakku, menurutmu mengapa Imam Husain dan para sahbatnya rela mengorbankan nyawanya ditengah ratusan ribu prajurit yang mengeroyoknya? Apakah Imam Husain ingin menunjukkan kepada sejarah bahwa beliau adalah orang yang hebat? Orang yang tidak takut terhadap maut? Orang yang tidak takut terhadap tikaman belati dan tebasan pedang? Demi Yesus Kristus, Imam Husain tidak demikian itu, duh anakku. Syahidnya Imam Husain adalah demi mempertahankan kebenaran. Demi menegakkan kemuliaan Tuhan. Demi menggapai kasih Tuhan. Sekarang, renungkanlah: Dzat yang bagaimana lagi yang melebihi kehebatan-Nya, ketika Dia memiliki hamba seperti laiknya Imam Husain?”
Aku terdiam. Aku tersudut.
“Anakku, hanya karena masalah kecil seperti yang kamu ceritakan tadi, kamu telah berputus asa. Seharusnya kamu malu kepada Imam Husain, padahal kitab sucimu telah menjaminnya sebagai orang yang suci, sedangkan tak ada jaminan dari-Nya dan dari siapa pun juga bahwa kamu adalah manusia suci.”
“Anakku, mengapa kamu ingin seperti manusia pada umumnya, yang hanya bersyukur ketika diberi nikmat, dan berubah menjadi resah-gelisah nan putus asa ketika tengah diberi coba? Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, anakku. Mohon ampunlah, sebelum terlambat!”
Aku menangis. Aku bingung. Aku merana.
Aku tidak menyangka ada seorang pendeta yang demikian bijak bestari, luas wawasannya, dan melintasbatas keyakinanya. Inilah bukti kemuliaan Allah sesungguhnya?
“Anakku, apakah kamu masih di situ?”
“Iya, Bapa. Aku masih di sini.”
“Pergilah. Tebarkan kasih Tuhan. Damaikan orang-orang yang ada disekitarmu dengan damai Tuhan. Tuhan tidak pernah berbuat Zalim kepada hamba-hamba-Nya, anakku. Tuhan maha Adil, dan keadilan-Nya akan dpat kamu saksikan pabila kamu mengikuti tanda-tanda-NYa.”
Kini aku berlari kembali. Aku berlari meninggalkan gereja.
ü “Jika karena wajah ini, Indri dan Okta bertengkar dan berkelahi” … “ lebih baik aku memohon kepada Allah agar Dia memburukan wajahku. Jika kedua mata ini telah menjadikan Indri dan Ota terpikat denganku, lebih baik aku berdoa kepada Allah semoga Dia berkenan membutakan kedua mataku.”
ü “Aku akan memaafkanmu pabila kamu meminta maaf kepada Allah atas perbuatanmu yang seperti itu. Ketahuilah, ada lima perkara yang dikandung dalam Zina : menghilangkan kehormatan, mewariskan kefakiran, mengurangi umur, memurkakan Ar-Rahman, dan mengekalkan neraka. Hari ini aku masih bisa bertemu denganmu, mungkin besok atau lusa, kita tidak lagi bisa bertemu. Maka dengarkan kata-kata seorang sahabat ini : berjanjilah kamu untuk menjadi gadis yang baik hati.”
ü … tanpa ampun lagi, aku menjadi sasaran empuk tinju dan tendangan Firman. Kemaluanku ditendangnya habis-habisan. Perutku dipukuli berkali-kali. Tak puas dengan itu, tiba-tiba Firman meraih mangkok berisi sambal diatas meja. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dan aku tidak sempat lagi menghindar ketika sambal dalam mangkok itu dihambur-hamburkan ke wajahku. Kedua tinjunya, silih berganti, menghajar wajahku. Kepalku pening. Kedua mataku sakit. Bumi bereputar pelan. Dadaku sesak. Kepalaku semakin pening. Mataku semakin sakit. Akhirnya aku ambruk tak sadarkan diri.
ü … “ Jadi pilihanmu sudah mantap, saudariku?tanyaku kepadanya.
“Insyaallah, mas. Kumohon doa restumu.”
“Tetapi pilihanmu adalah pilihan yang berat. Ibarat bunga, kamu baru saja mekar dan kelopakmu menebarkan wewangian yang menyebar kemana-mana. Harummu sanggup menghentikan langkah dan nafas terhirup menikmati keharuman itu. Yang aku tahu, ukhti, menjadi lajang seumur hidup di dalam Islam merupakan sebentuk pilihan yang amat sulit ketika Rasulullah saw bersabda bahwa termasuk dalam sunnahnya adalah menikah.”
“ Jadi, kalau aku tidak menikah, maka berarti aku melanggar sunnahnya?”
“Wallahu a’lam. Aku hanya tahu bahwa Rasul juga bersabda, ‘orang meninggal di antara kalian berada dalam kehinaan adalah bujangan’. Beliau juga bersabda, ‘ Sebagian besar penghuni neraka adalah orang-orang yang bujangan.’
“Sudah bertahun-tahun aku meninggalkan kewajibanku sebagai muslimah. Aku tinggalkan amalan-amalan ibadah di malam hari. Aku tinggalkan Al’Qur’an. Aku tinggalkan kebaikan. Pada saat yang sama, aku terjerumus dalam lembah hitam. Sebagaimana sahabat laki-lakiku yang mabuk, aku ikut-ikutan mabuk, ikut-ikutan mengkonsumsi narkoba, dan bahkan … astagfirullah al’adzim, aku … aku lakukan hubungan seksual secara haram. Mas, aku merasa bahwa dosaku lebih luas dari samudera, lebih tinngi dari gunungan yang menjulang, lebih dalam dari jurang yang paling dalam. Sesalku sekarang tidak pernah berakhir. Aku ingin memohon ampunan Allah. Dan aku merasa bahwa aku harus meninggalkan semua cinta, selain hanya mencintai Allah SWT. Ku pilih mencintai Allah, dan kutinggalkan cintaku kepada lawan jenisku. Jika pun ada yang ingin mencintaiku, maka aku katakan kepadanya bahwa cintaku hanya akan habis untuk mencintai-Nya. Aku khawatir bahwa ketika aku membina rumah tangga, kesibukan dunia membuat cintaku kepada Allah berkurang, padahal dosa, kesalahan, dan kemaksiatan yang telah kuperbuat selama ini rasa-rasanya tidak bisa terhapuskan, kecuali jika aku meyerahkan sepenuhnya diriku dalam cinta kepada-Nya. Cintaku kepada-Nya tidak ingin kubagi. Oleh karena itu, apakah pilihan seperti ini sama dengan melanggar sunnah nabi?”
“Semoga tidak,”jawabku,pendek.
“Aku ingin menjadi wanita kedua di Islam yang tidak menikah, setelah Rabi’ah al-Adawiah …”
3. Unsur Intrinsik
a. Tema : Perjalanan untuk mencapai kesejatian cinta Ilahi
b. Alur : Alurnya maju. Dimana novel Musafir cinta ini ada permulaan/pengenalan, pertikaian, perumitan, puncak/klimaks, peleraian dan akhir cerita.
1). Permulaan/pengenalan
Iqbal memulai perjalanannya dengan pergi dari Tegal Jadin karena ada perbedaan dengan para sahabatnya.
2). Pertikaian
Suatu hari Iqbal berseteru dengan Firman, yang dipermasalahkannya tentu saja mengenai Islam. Dan Iqbal pun merasa perkataan Firman ada benarnya. Gawatnya Iqbal pun mulai merasa ragu dengan agamanya dan mulai meninggalkan kewajibannya sebagai muslim.
3). Perumitan
Iqbal mulai ragu terhadap Allah setelah mendengar keluh-kesah Firman, dia benar-benar laksana cermin yang retak. Dia tidak bisa bercermin tentang dirinya dan tentang Allah. Dia tidak pernah membuka mushaf Al-Qur’an lagi, dia mulai jarang melaksanakan shalat fardlu apalagi shalat sunnah. Ketika sore hari, kala hujan mengguyur bumi. Iqbal berlari ke Gereja untuk mencari Tuhan yang mungkin saja Dia tengah ada di sana. Iqbal mengadu sebagaimana seorang Kristen. Seorang pendeta bertanya dari balik kelambu, Iqbal pun meminta maaf karena telah mengunjungi rumah Tuhan yang bukan Tuhannya. Ia pun mengatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, Iqbal mengaku tidak sanggup menemukan Tuhannya. Iqbal pun menceritakan masalahnya. Sang pendeta pun mencoba membantu mencari Tuhan yang Iqbal cari.. Tak disangka sang pendeta mulai menasihati Iqbal. Sang pendeta mengatakan bahwa Iqbal sedang putus asa dan putus asa itu merupakan jalan yang terkutuk. Sang pendeta mencoba untuk meyakinkan Iqbal terhadap Tuhannya. Ia menyuruh Iqbal untuk meminta ampunan kepada Allah, Tuhannya. Tak terasa Iqbal pun menangis dan tak menyangka ada seorang pendeta yang sedemikian bijaknya, luas wawasannya serta melintas batas keyakinannya. Akhirnya Iqbal pun berlari meninggalkan gereja.
4). Puncak/Klimaks
Kejadian buruk pun terjadi. Saat Iqbal berada di kamar Firman, Indri pun datang dan masuk ke kamarnya. Indri pun merayunya dan mencoba memeluk Iqbal.. Iqbal menolaknya. Saat itulah Firman datang dan melihat mereka berdekatan seperti itu. Firman marah dan menyuruh Iqbal untuk pergi dari rumahnya. Firman menantang Iqbal di Alun-alun. Dan Firman pun pergi.Saat itulah Iqbal mengemasi barang-barangnya. Orang tua Firman bingung apa yang sedang terjadi. Iqbal pun segera pergi ke alun-alun, disana sudah ada Firman dan sahabat-sahabatnya. Firman pun berkelahi dengan Iqbal di saat hujan tengah lebat. Tinjuan yang bertubi-tubi pun membuat Iqbal tidak sadarkan diri. Dan saat Iqbal terjatuh, Firman menyiramkan semangkuk sambal kemata Iqbal. Sampai Iqbal harus dirawat di rumah sakit selama lima belas hari.Akhirnya Iqbal tersadar, namun matanya tidak bisa di buka. Kemudian sahabat-sahabatnya datang dan kini mereka tahu masalah yang terjadi. Mereka membenci Firman atas kelakuannya, namun Iqbal melarang mereka untuk membenci Firman.
5). Peleraian
Tragedi di alun-alun membuat Firman menyesal dan dijauhi oleh para sahabatnya. Karena perbuatannya itu Firman melakukan suatu hal yang dianggap kebanyakan orang adalah sesuatu yang gila. Firman menggali kuburan untuk dirinya sendiri dan berusaha untuk bunuh diri dengan pisau. Parno pun segera memberitahukan semuanya kepada Iqbal. Iqbal bersama parno pergi ke kuburan walaupun Iqbal belum diperbolehkan pulang oleh dokter dengan dibantu oleh Parno akhirnya Iqbal pergi tanpa sepengetahuan dokter dan suster. Dengan kalimat-kalimat Al-Quran yang dibacakan Iqbal dengan berteriak keras. Iqbal telah menjadi saksi atas penderitaan dan kerinduannya Firman pada Ilahi sehingga Firman pun bersujud dikaki Iqbal dan meminta maaf.
6). Akhir cerita
Akhirnya Okta dan Indri memutuskan untuk berjilbab. Okta memutuskan untuk tidak menikah dengan alasan yang bisa diterima dengan jelas, kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dia mengikuti jejak Rabi;ah Al-adawiah. Surya, Parno, dan patmo pun mendapatkan jiwa barunya. Setelah lima belas hari perban yang menutupi mata Iqbal hari ini perban itu bisa dibuka. Semua orang mencemaskan mata Iqbal, mereka takut Iqbal tidak bisa melihat kembali. Alhamdulilah atas izin-Nya Iqbal bisa melihat kembali. Kejadian di kuburan itu membuat Iqbal terkenal begitupun dengan Firman. Banyak artikel yang dimuat di Koran-koran yang meliput tentang mereka. Dan mereka pun membentuk sebuah kelompok bernamakan “Ashabul Kahfi”. Sudah tiga tahun Iqbal tinggal di Banjarnegara. Tanpa sepengetahuan Iqbal. Para pengurus Ashabul Kahfi menyediakan dua buah mini bus ditambah mobil pak Burhan, mereka (rombongan Ashabul Kahfi) akan mengantarkan Iqbal menuju pesantren Tegal Jadin untuk menjemput cintanya.
c. Tokoh
1). Iqbal
Iqbal adalah Tokoh utama dalam novel musafir cinta. Dia baik, mempunyai kepedulian terhadap orang lain untuk kembali di jalan Allah SWT, mempunyai keteguhan hati, sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu (seperti menghafal Al-Qur’an) meskipun terkadang dia suka putus asa.
2). Anton
Anton adalah pemuda yang Baik, cerdas, dia menganut agama cinta (bukan agama Islam, bukan agama Kristen, bukan agama Hindu Budha dan yang lainnya).
3). Ida
Ida adalah Perempuan berjilbab yang mudah terjebak dalam cinta sderhana seorang pria.
4). Yoga
Yoga adalah seorang pemuda yang begitu mudahnya bisa merayu perempuan yang berjilbab (Ida) untuk bisa menerima cintanya dengan pujian-pujian yang bisa meluluhkan hati Ida.
5). Firman
Firman adalah pemuda yang sebenarnya baik, namun setelah adiknya meninggal karena diperkosa dan sampai sekarang pelakunya belum tertangkap. Dia berubah menjadi liar (nakal), suka mabuk-mabukan, narkoba bahkan free sex, mudah putus asa dan tidak peduli terhadap nasihat kedua orangtuanya. Gayanya slengean, urakan dan amoral (seperti melakukan free sex).
6). Indri
Indri adalah kekasihnya Firman. Dia adalah perempuan yang tidak punya rasa malu, amoral, agresif, dan selalu memaksa Iqbal untuk menjadi kekasihnya.
7). Okta
Okta adalah seorang perempuan yang sebenarnya baik, namun dia berubah menjadi nakal setelah di keluarkan dari kampus karena dituduh sebagai seorang pengedar narkoba padahal pacarnya yang menjadi pengedar. Akhirnya dia menjadi amoral dan agresuf.
8). Surya
Surya adalah sahabatnya Firman. Gayanya slengean, urakan dan amoral.
9). Parno
Sahabatnya Firman. Gayanya slengean, urakan, amoral, tapi sikapnya lebih baik dari Firman, Patmo, dan Surya.
10). Patmo
Sahabatnya Firman. Gayanya slengean, urakan, dan amoral.
11). Ibu Laela
Ibu Laela adalah ibunya Firman. Orangnya baik dan penuh kasih sayang, dan selalu berusaha menjadi orangtua yang baik di mata Firman, namun sayangnya Firman tidak pernah mempedulikannya.
12). Pak Burhan
Pak Burhan adalah ayahnya Firman. Orangnya baik dan penuh kasih sayang, dan selalu berusaha menjadi orangtua yang baik di mata Firman, namun sayangnya Firman tidak pernah mempedulikannya.
d. Latar Tempat :
- Pesantren Tegal Jadin
- Desa Bandung
- Bus Jurusan Solo-Purwokerto
- di Kota Banjarnegara
e. Latar Waktu : Shubuh, pagi, siang hari, malam hari
f. Sudut Pandang
Posisi pengarang dalam novel musafir cinta/ cara pengarang memandang para tokoh menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu dengan menggunakan kata “aku”.
g. Gaya Penulisan
Gaya tuturnya lancar, mengalir dan penuh hikmah disetiap jalan ceritanya, kata-katanya mudah dicerna tidak terlalu rumit ( mudah dimengerti).